Pages

  • Home
  • Contact
  • Shop
Powered by Blogger.

Home Ads

Advertisement

facebook linkedin twitter youtube

Simply Amazing

    • Home
    • Food
    • _Coffee
    • _Food
    • Movie
    • travel
    • General







    Gunung Lawu, mendengar gunung itu pun langsung terhubung dengan hal yang berbau mistis, angker, pusat kerajaan siluman dan hal-lain yang berbau klenik

    Gunung yang mempunyai ketinggian 3265 MDPL ini punya tiga puncak, hargo dalem, hargo dumiling, dan hargo dumilah, konon ceritanya gunung yang terkenal sebagai pusat kerjaan makhluk halus ini dijaga oleh jin yang berasal dari kerajaan majapahit.

    Berangkat..

    View ST Solo Jebres

    Berawal dari St. Pasar Senen  dan berakhir di St. Solo Jebres, rombongan kami berjumlah  8 orang  yaitu Arif, Ayuti, Aini, Alif, Fuad, Ikus, Novi dan Saya. Seperti biasa kami menyewa karto kasbun sebagai driver, yang kali membawa elf prona buatan karosesri new armada sebagai angkutan kami dari solo menuju cemoro sewu, pintu gerbang pendakian seolah sudah menjadi paket, Mas bolang terpilih menjadi guide kami/ Rumah joglo, jalan mulus tanpa pemisah, serta pemotor yang banyak yang tidak menggunakan helm menjadi pendangan yang memanjakan mata. Saya sempat memperhatikan tanda jalan bertuliskan astana giri bangun yang menjadi tempat peristirahatan terakhir presiden kedua republik Indonesia, Bapak Jendral Besar Soeharto.



    Cemoro Sewu

    Mesjid An-Nur

    Sudah banyak pendaki yang bersiap ketika kami sampai di gerbang pendakian cemoro sewu. Kondisi saat itu berkabut. Jam 12 siang pun suhu sudah berasa dingin. Setelah sholat zuhur, rombongan kami bersiap melakukan pendakian. Pak karto kasbun dan mas bolang menemani kami mendaki.
    Papan Vandalisme yang berisi aneka striker pencinta alam
    Mas bolang, menjadi guide kami selama mendaki, Kondisi jalur pendakian lawu via cemoro sewu sudah baik, karena jalur sudah diberikan batu blok sebagai pijakan. Berawal dari daerah dengan banyak pohon cemara, melalui beberapa sumber mata air, medan berbatu, setelah 8 jam kami mendaki, pos 4 yang menjadi pilihan kami mendirikan tenda untuk berisitirahat.
    Jalur setapak Gunung Lawu Via

    Naris Di Gerbang Pendakian Cemoro Sewu

    Trouble..

    Masalah terjadi, ketika tenda yang dibawa kapasitasnya tidak sesuai dengan jumlah rombongan, dua tenda dengan kapasitas 7 orang (4+3) tentu tidak cukup untuk diisi dengan Sembilan orang. Terpaksa rombongan putrid yang berjumlah 4 orang, masuk ke tenda dengan kapasitas 3 orang, dan lelaki yang berjumlah 5 orang dipaksa masuk ke tenda 4 orang, namun setelah dicoba, tenda 4 orang hanya muat untuk 4 orang. Semula pak karto kasbun berniat tidur diluar tenda, namun pak karto terlihat pucat, akhirnya saya bersedia untuk tidur luar. Beralaskan matras, dan dihangatkan sleeping bag standar, pertama kali saya mengalami tidur diluar, beruntuk cucaca cerah karena sedang musim kemarau, sekaligus udara di gunung sedang dingin-dinginnya, jujur gunung lawu ini suhunya luar biasa dingin dibanding gunung yang lain.

    Yellow..
    Sunrise Lawu
    Sekitar pukul 03.30  kami bangun bersiap summit, tak lupa sarapan, tanpa guide kami summit, kondisi lawu saat itu ramai, sehingga cukup mudah untuk menemukan jalur karena banyaknya pendaki. kami beruntung sampai puncak tepat sebelum matahari terbit. sunrise lawu ini cukup unik, karena warna lembayungnya yang jingga, kami hanya mengunjungi hargo dumilah, karena tidak tau jalan ke dua puncak yang lain.

    Landscape Gunung Lawu
    Karena kami summit di pagi buta, ketika turun dari hargodumilah barulah terlihat pesona lawu, landscape yang tidak ditemui di tempat lain, hamparan hijau, jurang-jurang, dan beberapa bangunan pendopo yang kami dengar digunakan sebagai tempat bertapa dan lain-lain, serta beberapa tanaman indah yang saya tidak tau nama dan jenisnya.

    Landsacape Gunung Lawu

    Salah Satu Tanaman Yang Tumbuh Di Gunung Lawu



    Turun..
    Perjalanan turun sama dengan naik, yaitu lewat jalur cemoro sewu, ada yang unik ketika seekor burung jalak mengikuti kami turun sampai pos 1. Seakan menjadi pendamping perjalan turun kami.
    Karena cuaca mendukung, kami sampai gerbang cemoro sewu sekitar pukul 1 siang, yak, peralanan naik-turun bisa dibilang 2:1 perbandingan waktunya.

    Tips
    1. Gunung Lawu itu suhunya dingin terutama musim kemarau, jadi persiapan harus lebih untuk menghangatkan badan.
    2. Bawa bekal makanan cukup protein, seperti daging, disamping enak, Lawu itu tempat yang menyenangkan untuk camping, dijamin whorted !!

    Gallery..
    Pentoel, makanan yang bisa ditemui di cemoro sewu

    View Di Awal Pendakian


    View Turun Dari Puncak
    Thanks To: Allah SWT, Kedua Orang Tua, dan teman seperjalanan
    Kiri Atas: Galih, Ayuti, Novi, Aini, Ikus, Arif
    Kiri Bawah: Karto Kasbun, Arif














    Continue Reading



    And The Story Begin..

    Ya bekasi, kota yang menyimpan segudang permasalahan, mulai dari jalan rusak, angkot ngetem sembarangan, polusi yang enggak terkontrol, dan masih banyak keluhan yang rasanya udah jadi rahasia umum se alam sememsta.

    Kebetulan saya adalah mahasiswa teknik industri kelas malam di Universitas Gunadarma Kalimalang, Malam itu selesai UAS, pasukan kelas meluncur ke Bebek Keleyo Kalimalang untuk makan malam, sekaligus membicarakan rencana liburan ke Dieng sebagai media refreshing sebelum menghadapi perkuliahan tingkat akhir pada tanggal 29 sampai 31 Agustus 2014.

    Suasana Makan Malam Di Kaleo


    The Wolf Pack..


    The Pack

    Hampir semua dari kami adalah mahasiswa merangkap karyawan, enggak perlu dijelasin alasan kita untuk ngambil liburan ke dieng, selama bertahun-tahun kuliah kelas ini belum pernah liburan bareng-bareng dan cuma ketemu pas kegiatan belajar di kampus aja, dan lengkap pas ada praktikum selebihnya cuma 50% mahasiswa yang hadir kalau perkuliahanan reguler, Fyi, praktikum di universitas tempat kita mencari ilmu itu bener-bener susah dan kadang bikin sebel karena peraturannya yang sangat kaku.

    Kami, peserta trip dieng ini ada 14 orang, coba dikenalin satu-satu, liat foto diatas ya, dari kiri ke kanan, dan atas kebawah, Anggota pertama itu Fina, junior di kampus, 1 angkatan dibawah berhasil diracun sampai ikut, ada kholid, temen sekelas yang pake jaket motor pas naek gunung, lanjut ada Adi, yang ngakunya pake kaos empat rangkap plus jaket buat ngusir dinginnya gunung prau di pagi hari, terus ada Ayu yang pada kegiatan kuliah dia adalah ketua kelas, Ayu  total banget prepare trip dieng ini, terutama peralatan lenong naik gunungnya. Selanjutnya ada Taja, dia yang paling senior masalah gunung, diantara 14 orang ini, dan jadi teman "nyewiper" yang baik dan tangkas. Selanjtunya saya sendiri, seorang newbie hina mencoba jadi manusia yang berguna selama trip ini. Berikutnya Arif, Arif adalah seorang enterpreneur lucu yang usahanya sedang berkembang, jujur saya baru kali ini liat pendaki yang pake dasi pramuka, itulah Arif.

    Di foto barisan bawah mulai dari kiri ada Alel yang mengaku jarang banget pergi jauh, kelakuan dia selama trip ini kalau di analogikan seperti singa betina yang keluar dari kandang dan enggak bisa diam barang sedikit. Selanjutnya ada salman, Senior 2 angkatan diatas kelas kita yang pernah jadi asisten praktikum, salman bawa keril ajaib, besar, terlihat penuh tapi bisa diangkat menggunakan ujung jari kelingking. Pria selanjutnya adalah febri, selain teman sekampus selain fina, dan iman, ferbri ini sama-sama satu alumni teknik mesin pembangunan yang nafsu makannya sangat besar. Selanjtunya ada Suci, diantara para  wanita yang lain, suci punya jam terbang naik gunung paling tinggi dan berpengalaman dengan segala medan. Selanjtunya ada Rudi, putra jawa yang kesehariannya sopan sekali baik tingkah laku dan tutur bicarannya. Selanjutnya adalah Iman, yang sudah pindah kampus, dia adalah sumber dari segala foto terbaik dari trip ini, "Fotografer Handal". Selanjutnya ada seorang Baja, sama seperti iman baja juga sudah pindah kampus, tapi tetep mereka sudah jadi bagian keluarga kelas ID, dia jadi leader selama pendakian di gunung Prau.

    Itu sudah para pria tampan rupawan, dan para wanita cantik jelita yang jadi peserta trip ini.

    On The Way..
    29 Agustus, suatu malam biasa, Janji manis kumpul jam 7 malam, satu persatu semua pasukan datang, yang pertama itu Taja yang udah terkenal sebagai Mr. On Time, kemudian kholid yang berangkat sejak hari kamis karena jauhnya rumah kholid di Cikarang (Joke)  dan  yang paling terakhir datang Fina. Lega semua logistik bisa dibilang kumplit, pasukan terbagi dua karena kesalahan dalam booking tiket kereta, sembilan pasukan naik KA Serayu Malam, dan lima pasukan naik armada bus Murni Jaya.
    Tujuan pertama adalah Kota Purwokerto, yang kami perkirakan akan sampai jam 8 Pagi, ternyata molor karena keterlamabatan kedua armada dan baru sampai Purwokerto Sekitar jam 9, kebayang lamanya perjalanan seperti apa, ada beberapa tips untuk menghilangkan kepenatan di perjalanan yang kami lakukan yaitu main kartu dan foto-foto.

    Sepurmania dan Bismania
    Elf Pak Karto Kasbun yang kami sewa sebagai kendaraan selama trip dieng sudah stand bye sejak jam 7 pagi. setelah semua kumpul di ST Purwokerto, hal pertama adalah sarapan di warung nasi dekat Stasiun purwokerto, tipikal warung khas jawa, porsi wah, harga murah. Kenyang, selesai sarapan perjalanan menuju Dieng dimulai.

    Dieng..
    Karena keterlambatan jadwal, kami baru sampai di dieng sekitar jam setengah 2 siang, kondisi Dieng saat itu sangat ramai karena ada acara Dieng Culture Festival sehingga rencana ke candi Arjuno dibatalkan akibat ramainya pengunjung. Mie ongklok khas wonosobo menjadi "Bensin" kami sebelum mengacak-acak Dieng. Btw, ini adalah kesempatan kedua saya mengunjungi dieng catatan perjalanan pertama saya di dataran tinggi dieng dapat dilihat di sini

    Telaga Warna..
    Telaga Warna
    Tempat yang pertama kami acak-acak adalah telaga warna, Danau yang menjadi andalan pariwisata dieng ini memiliki warna yang berubah-ubah karena mengandung sulfur, telaga yang memiliki ketinggian 2000 MDPL (Copas Wiki) ini dikelilingi banyak bukit sehingga cocok sebagai sarana foto (Baca:Narsis), sampai jam 3 sore, jadilah telaga warna ini sebagai ajang curhat visual dalam bentuk gaya yang diakibatkan kepenatan kami menghadapi rutinitas kerja dan kuliah. 
    Levitasi Kumplit Sekeluarga
    Pose Telaga Warna
    Tips untuk trip di telaga warna,
    1. Sebagai traveler yang baik, masuklah dari pintu utama dan membayar retibusi.
    2. Jangan terlalu lama di area kawah, karena asapnya beracun.
    3. Banyak goa-goa yang letaknya tersembunyi, cari, dan temukan!
    4. Jangan mengotori telaga warna yang sudah kotor karena pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

    Prau..
    Gunung yang sedang naik daun ini menjadi tujuan utama kami, racun racun yang sudah ditebar berhasil membuat trip ini terlakana. Banyak yang belum pernah naik gunung, sehingga prau menjadi gunung pertamanya,


    Was-was..
    Sempat was-was dengan kondisi tersebut namun persiapan menjadi kunci segalanya, Logistik, P3K, dan perlengkapan pribadi yang kami bawa cukup lengkap sehingga memberikan ketenangan mental dan batin kami saat mendaki. Setelah mengurus Simaksi, packing ulang dan lain-lain tepat pukul 16.30 Kami mulai mendaki.
    Awal Pendakian, Masih Semangat!

    Suci dan Alel, 2 bidadari kelas
    Kami mengawali pendakian dari desa dieng kulon, karena sifatnya yang cukup landai, sebenarnya jalur resmi adalah lewat desa petak banteng, namun karena medannya yang curam, kami memilih naik lewat desa dieng kulon.

    Senja di Lereng Gunung Prau

    Narsis di Jalur Pendakian

    Paru-paru kami yang penuh polusi membuat pendakian prau ini menjadi sangat melelahkan, setelah penuh perjuangan kami berhasil mencapai camping ground sekitar pukul 19.30, ada kejadian dimana dua orang pasukan Pak Karto kasbun yang membawa dua tenda terpisah dari rombongan, akhirnya kami hanya mendirikan tiga tenda yang normalnya diisi oleh 12 orang tapi entah bagaimana semua bisa masuk dan tertidur walau terjadi perang kentut di masing-masing tenda yang berlangsung ssepanjang malam. Terbiasa dengan udara panas kota Bekasi, kami kedinginan oleh gunung prau, beberapa teman langsung masuk tenda menghangatkan diri, beberapa manyiapkan masakan dan masak air, dan ketika makanan sudah matang, entah bagaimana caranya udang balado dan spagethi sebagai makan malam kami habis dalam sekejap.


    Milky Way..
    Banyak cara menghabiskan malam di gunung prau, kebanyakan mengisi waktunya dengan "nenda", mungkin kelelahan, banyak yang langsung tidur setelah makan malam, ada juga yang saling curhat di luar tenda sambil menikmati secangkir kopi yang tidak lama panas ditemani langkit yang penuh bintang, karena di kota mustahil dapat pemandangan yang seperti itu, lain pula iman, instingnya sebagai "Fotografer Handal" sibuk memainkan kameranya, bahkan diantara kami, Iman yang paling belakangan masuk tenda karena asyik dengan Nikonnya, dan hasilnya ga perlu diragukan lagi, Amazing!!, semua yang foto yang ada di tulisan ini adalah jepretan Iman. 



    Panorama Malam Gunung Prau Dieng
    Pukul 01.00, 31 Agustus 2015 semua mulai masuk ke alam bawah sadar masing-masing, terlelap didalam dinginnya udara dieng. Beruntung bagi kami di udara dingin gunung prau di bulan agustus tidak satupun dari kamu yang terkena Hipotermia.

    Epic Sunrise
    Pukul 05.00 satu kita bangun, masih kedinginan kita merayap keluar tenda untuk berburu golden sunrise yang udah jadi trandmark gunung prau, apalagi ini bulan agustus yang bisa dibilang periode emas kalau mau mendaki karena kondisinya yang "Pas".
    Letak strategis gunung prau yang berada di tengah-tengah pegunungan indah jawa tengah, membuat pamandangan yang ada sangat puitis.


    Golden Sunrise
    Tips untuk berburu foto sunrise,
    1. Bangun pukul 04.30.
    2. Bawalah tripod yang mendukung.
    3. Cari spot yang baik, dan bebas halangan, karena semakin siang semakin banyak yang mau ambil foto.
    4. Pakai baju hangat, karena udara sangat-sangat dingin, dan sunrise datangnya sekitar pukul 05.15

    Setelah puas menikmati visualisasi sunrise prau, kami lanjut narsis ria, well, prau adalah gunung yang ramai, jadi jangan kaget kalau puncak dipenuhi puluhan bahkan ratusan tenda.
    Niat Bawa Banner Dari Bekasi

    Laskar Apalah Entah, Yang Penting Foto!

    Semangat Merah Putih Dari Taja

    Entahlah

    Indahnya Kebersamaan..
    Setelah puas narsis di prau, sekitar jam 8 pagi kami mulai packing ulang dan persiapan turun, senang rasanya semua aktif bahu membahu saling membantu satu sama lain, ini membuktikan budaya gotong royong belum hilang di Indonesia meskipun ini diperoleh ketika melakukan kegiatan pendakian. Sampah yang kami hasilkan cukup banyak, trashbag terisi sampah dengan berat sektiar 10 kg, bergantian Arif, Adi, Salman, dan Kholid membawa sampah tersebut turun.
    Budaya Gotong Royong Belum Punah Kawan
    Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dan semua sampah telah dipungut dan dimasukan trashbag, kami melakukan briefing dan berdoa bersama sebelum turun, bersyukur dan berdoa semoga kami terus dilimpahkan keselamatan oleh Allah SWT, tak lupa selesai briefing, kami melakukan foto sekeluarga.
    Briefing dan Berdoa Sebelum Turun

    Foto Keluarga
    Sekitar jam 9 pagi kami turun dengan jalur yang sama, yaitu menuju desa dieng, pemandangan yang tidak terlihat ketika malam terlihat begitu ajaib, ada bukit teletabis, bunga yang tidak tau namanya, dan pemandangan lain yang memanjakan sejauh mata memandang. Naik turun bukit teletabis, kami pun tiba di menara pemancar yang terdapat di gunung prau, pada malam hari, beberapa teman melihat sesuatu yang ganjil, yaitu sesosok kakek kakek yang tidak diketahui asal muasalnya, dan beberapa bunyi-bunyian aneh yang baru diceritakan ketika sampai bawah, tentunya cerita mistis itu menambah warna perjalanan kami.
    Febri Narsis di Perjalanan Turun, dibelakangnya terlihat Kholid dan Arif dengan Dasi Pramukanya Membawa Turun Sampah

    Bukit Yang Kami Lewati Ketika Perjalanan Turun
    Break Bos !!
    Sampai pos pendaftaran jam 12 siang, masing-masing ada yang makan, mandi, dan sholat. Tak lupa belanja oleh-oleh khas dieng untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. siang itu dieng tak ubahnya seperti kota, penuh sesak karena ada dieng culture fest yang mengakibatkan jalanan macet. 

    Ketinggalan Kereta..
    Puas "ngobok-ngobok" dieng, kami bersiap pulang, rencannya kami naik kereta dari ST semarang poncol menggunakan kereta Tawang Jaya keberangkatan 18.40. dengan waktu keberangkatan tersebut estimasi perjalanan kami adalah 4 jam. pukul 13.30 kami mulai perjalanan pulang dengan elf Pak Karto kasbun, namun penuhnya dieng saat itu membuat perjalanan kami terhambat, sehingga baru sampai semarang sekitar pukul 19.30, Weleh, ketinggalan kereta gan...

    Setelah berunding, tim memutuskan naik bis untuk kembali ke bekasi, karena keadaan sudah larut, terpakasa naik bis dengan nama Mulia lestar, bis dengan pelayanan terburuk yang pernah saya gunakan, AC sempat mati selama 4 jam padahal sedang macet, kursi penuh kutu, tidak ada toilet, dan ajaib ada ayam yang terus berkokok, dan motor juga jadi penumpang di bis itu, dan untuk semua pelayanan "mewah" itu kami terpaksa merogoh kocek sejumlah 150 K, damn!!

    Kondisi Bus Terkutuk, Bukan Cuma Manusia yang Jadi Penumpang

    Adi  Bobo Ganteng
    Kami turun di pintu tol bekasi timur, yup pintu tol, bus itu tidak mau masuk ke bulak kapal dengan seribu alasan. Ayu, Suci, dan Alel melanjutkan perjalanan pulang menggunakan taksi, sementara sisanya berjalan menuju rumah Arif yang kebetulan tidak jauh. Sampai rumah Arif, nasi uduk dan teh hangat sudah menyambut untuk mengobati rasa lapar kami yang lelah menghadapi jalur pantura dengan bus yang tidak bertanggung jawab itu. Setelah puas di rumah arif, kami pun pulang ke rumah masing-masing membawa seribu cerita tentang perjalanan kali ini..
    Tiket Kereta Yang Gagal Kami Gunakan

    "Tidak ada yang lain, kecuali tentang kebersamaan kita yang bisa diceritakan, terimakasih kawan.."

    No left man behind,
    The End..

    Thanks To
    Allah SWT
    Keluarga ID 
    Pak Karto Kasbun dan kru
    Ibunya Arif












    Continue Reading
            



         Kesehatan itu rejeki yang ga bernilai, mungkin kata-kata itu sudah sering di dengar, kali ini saya coba share tentang infused water, infused water adalah campuran berbagai macam buah kedalam wadah yang sudah diisi air, kemudian ditutup dan disimpan dalam lemari pendingin. Setelah lebih dari 2 jam, infused water siap untuk anda konsumsi. Mungkin sudah banyak tulisan mengenai pentingnya air mineral, ada cara baru orang menikmati air mineral. Kalau air mineral yang biasa kita minum itu fungsinya “hanya” untuk melancarkan sistem pencernaan dan memelihara fungsi ginjal. Maka, si Infused Water ini punya beberapa manfaat tergantung perpaduan buah dan herbs yang dipakai. Infused water juga cocok buat orang yang gak doyan minum air mineral biasa.

    Manfaat dari Infused Water, seperti yang saya copas dari tempo.com :

    1. Stroberi dan kiwi
       Bermanfaat untuk kesehatan kardiovaskular, menguatkan sistem kekebalan, menurunkan gula darah, dan memperlancar pencernaan. 


    2. Teh hijau + daun mint + jeruk nipis
    Bermanfaat untuk pembakaran lemak, pencernaan, meredakan sakit kepala, mengatasi susah buang air besar, dan menjaga kesehatan pernapasan.
    3. Timun + jeruk nipis + lemon
    Bermanfaat untuk mengatasi kembung, mengontrol nafsu makan, mengatasi dehidrasi, dan menjaga kesehatan pencernaan.
    4. Lemon, jeruk nipis
    Manfaatnya sebagai sumber vitamin C dan meningkatkan sistem pertahanan tubuh.

         Tidak semua buah cocok dimasukkan ke dalam air mineral. Menurut Detik Health, ada beberapa buah yang A-Big-No bergabung ke perkumpulan Minuman Infus. Contohnya :
    1. Buah yang mengandung banyak air seperti Semangka.
    2. Buah yang bertekstur lembek seperti Pepaya, Pisang dan Durian juga ndak cocok lantaran penampilannya yang bakal hilang kece saat menyatu dengan air.
    3. Nangka, sah-sah aja bergabung masuk jadi anggota perkumpulan Minuman Infus tapi kandungan alkoholnya tinggi sehingga ndak bagus buat lambung apalagi penderita maag.
    4. Si Apel crunchy juga kurang oke dimasukkan ke dalam perkumpulan Minuman Infus. Tau sendiri dong, Apel itu buah yang mudah teroksidasi. Dibelah dikit, warna buahnya langsung berubah apalagi kalo direndam berjam-jam.
         

    Selamat Mencoba...


    Sumber

    Tempo
    Detik
    Facebook


    Continue Reading

    Totalitas dalam berkerja, tentunya itu hal yang harus diberikan karyawan dalam menyelsaikan pekerjaannya, namun bagaimana ketika pikiran seorang pekerja yang nyambii jadi mahasiswa kalong (baca:kelas malam) di kampus yang sistem perkuliahannya “beneran” dengan tugas perkuliahan yang ga ada habisnya, kehabisan bensin, itu mungkin penggambaran yang cocok.

     Kembali bersama jelajah gunung, penyedia jasa travelling yang spesialis ketinggian yang digawangi fajar herlambang dan bang wiro, saya mengikuti trip explore dieng, yang mengambil spot di dataran tinggi dieng, yang akan saya ceritakan dibawah.

      Dieng adalah kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara danKabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. (sumber:mbah wiki), spot yang diambil di trip explore dieng sendiri yaitu kompleks candi arjuno, telaga warna, dan paling saya tunggu, gunung prau !!

    TS Nampang di KA Serayu yang ganti lokomotif di stasiun kroya
           Perjalanan dari Jakarta ditempuh dengan menggunakan jasa kreta serayu, berangkat dari stasiun senen pukul 20.45, entah kenapa pengalaman saya naik kreta, serayu ini kok bisa dibilang, kereta lambat, hamper setiap satu jam sekali kreta ini berhenti, entah kenapa, jalur yang dilewati yaitu jalur selatan, yang katanya punya view yang wah, tapi ya saya tidak melihat apa apa selain kegelapan malam, skip.. disambut ringtone stasiun dengan nada ditepi sungai serayu yang sudah menjadi salah satu khas stasiun jawa, kami sampai stasiun besar purwokerto jam 09.20, 12 jam lebih, kok lama? iya,

                   Perjalanan dilanjutkan dengan elf yang di nahkodai oleh pak Karto kasbun, driver kece yang jadi man the match trip kali ini, dan dikeneki oleh mas bolang dari jandapala, saya kurang begitu mengerti pola pikir pak karto kasbun, sepanjang perjalanan kalau papasan dengan ibu ibu dipinggir jalan pak karto dengan santainya bilang “Bu ee, mak ee” kepada ibu tersebut, sontak saja sang ibu kebingungan dibuatnya, begitu juga kalu papasan dengan bapak bapak, “pak ee, ma see”, sangking bingungnya saya melihat seorang bapak yang kebetulan mengendarai motor sampai meminggirkan motornya karena bingung bukan main dipanggil begitu olah pak karto kasbun.
    Elf Sartika, Mas Bolang Jandapala, dan Pak Karto Kasbun
           Setelah mampir sarapan ayam sekaligus makan siang ayam goreng di daerah purwokerto, perjalanan  menuju dieng ditempuh 4 jam perjalanan naik elf, kira kira jam 2 siang sudah sampai di kopleks candi arjuna, sejuknya udara dieng yang sangat membuat relax jiwa dan raga, menyambut kedatangan kami yang sudah gerah panasnya hawa perkotaan. 
    TS Menginjakan Kaki di Dataran Tinggi Dieng

    Kompleks candi arjuna sendiri didalamnya terdapat beberapa candi yaitu Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, Candi Setyaki, Gangsiran Aswatama, dan Candi Dwarawati. Beberapa candi sudah tidak berbentuk dan hanya tampak seperti kumpulan batu karena dimakan usia. Sempatkan mampir beli kentang goreng yang dijual di parkiran, rasanya kentangnya itu lho, menari-nari dimulut. 
    View Kompleks Candi Arjuna
    Ada juga para teletubies KW sekian yang bisa diminta foto bareng dengan menyetorkan uang sekian rupiah, dan ada juga para wayang yang bersedia foto bareng juga di candi, ini wajib.

    Foto Bersama Para Teletubies

    Tujuan selanjutnya adalah telaga warna, tapi sebelum ke telaga warna, kami makan mie khas wonosobo, namanya mie ongklok, mie dengan taburan dedauanan yang kuahnya berlendir, dilengkapi beberpa tusuk sate ayam, mie ongklok ini jadi salah satu kuliner yang punya rasa khas tiada tara, 

    Mie Ongklok Khas Wonosobo
    Masuk kedalam objek wisata telaga warna, ada sebuah telaga yang berarna hijau kebiru biruan, dan sebuah telaga yang berwarna coklat, di sekitarnya terdapat beberapa goa yang punya aroma mistis sangat kental dan masih ada kembang 7 rupa dan bau menyen disekitar goa tersebut, sungguh eksotik. 
    View Telaga Warna
    Menjelang malam, kami packing ulang keril yang kami bawa persiapan pendakian ke gunung prau, semula jalur pendakian kami melalui petak banteng, tapi mendapat saran kalau jalur dieng labih landai, maka kami lewat jalur dieng karena alas an keselamatan kami mendaki malam, jam 8 malam kami mulai mendaki, dingin, satu kata yang akan sering kami ucapkan di gunung prau itu. Jalur tracking tidak begitu ekstrim memang, tapi dinginnya itu, plus angin yang bertiup kencang mebuat dingin tersebut menusuk nusuk tulang kami yang notabene rakyat kota yang terbiasa diterpa hawa panas penuh polutan hasil pembakaran gas buang, suara hembusan angin malam saat itu begitu kencangnya, suaranya kira kira sama kalau sahabat naik motor kecepatan 80km/jam tanpa pakai helm.
    Kegiatan Malam Para Pendaki di Camping Ground

    Sampai tempat camping jam 11 malam, dan lagi lagi, dinginnya itu yang tidak bisa dibohongi, buru-buru kami mendirikan tenda, sekaligus memasak air, untuk membuat kopi sekedar mencari kehangatan yang kemudian kopi ternikmat tahun 2014. Setelah menghangatkan diri sebentar, saya menemani iman, sobat kental sekaligus  fotografer handal mengabadikan momen malam yang disuguhkan di gunung prau, 

    View Pemandangan Gunung Prau Pada Malam Hari

    Beratapkan bintang dan bulan yang tampak begitu jelas, sehingga milky way sang galaksi bima sakti sangat terlihat, sementara pada sisi lain. Kumpulan pegunungan yang mengelilingin dieng tampak jelas terlihat bermandikan cahaya bulan. sesekali cahaya senter para pendaki di gunung sindoro, dan sumbing yang terlihat seakan memberikan salam hangat para pendaki prau yang kedinginan diterkam suhu dingin dieng, sungguh pemandangan dan malam yang sangat indah.

    View Malam Dari Gunung Prau
    Puas memandangi keindahan malam gunung prau, dan karena badan sudah kedinginan, kami masuk kedalam tenda masing masing untuk beristirahat. Setiap 2 jam sekali alarm 3 manusia dalam satu tenda yaitu saya, Arif, dan alif, begantian berbunyi, kami pun sibuk saling mengingatkan untuk mematikan alarm. Kebetulan posisi tenda kami sengaja berhadapan langsung menghadap barisan pegunungan di jawa tengah.  Jam 5 pagi kami bangun, jantung berdebar ga sabar rasanya pengen liat pemandangan prau yang termahsyur akan sunrise indahnya, dan orang beruntung yang mendapat kehormatan membuka tenda yaitu arif, pelan pelan tenda terbuka dan subhanallah.. 

    View Pagi Hari di Gunung Prau
    Mentari Pagi Perlahan Menampakan Sinarnya
          Para pegunungan di jawa tengah seakan mengelilingi kami seraya mengucapkan salam, haru biru suasana saat itu, berasa hina, berasa kecil sekali saya rasanya berdiri diam di kaki langit, menikmati sinar mentari yang perlahan menghangatkan pagi yang dingin.
    Sunrise Gunung Prau
    benar benar dibuat takjub atas apa ciptaanmu sang khaliq,
    ini kah yang dinamakan zamrud khatulistiwa?
    Para Penikmat Alam Di Gunung Prau
    Bukit Teletubies Berselimut Awan
         Terlepas dari itu semua, ada hal mengganggu yang perlu menjadi PR menjadi kita semua, sampah para pendaki entah botol, aneka bungkus beraneka ragam yang tidak dibawa turun kembali sangat merusak gunung prau, apakah pantas hal yang seperti itu membuat kita dikatakan para pencinta alam?
         Hal yang menjadi duka kami yaitu pada hari itu Aditiya (24) seorang mahasiswa STIKES yang sedang mengikuti kegiatan bersih-bersih gunung meninggal dalam pendakian gunung prau karena mengalami sesak nafas, R.I.P for the fallen...

    Setelah dirasa cukup, kami pun turun dari gunung prau dan bersiap kembali ke jakarta, menggunakan KA Progo, sungguh dieng adalah tempat yang sangat indah, jaga semoga tetap indah..

    Terimakasih Indonesia..

    Gallerie






    Fullteam, banner K.P.K. dan Jelajah Gunung, Dari kiri: Mas Bolang, Temennya Mas Bolang, Yuri, Pak Karto Kasbun, Magdalena, Devi, Fajar Herlambang, Mia, Tante Lina, Mas Wiro, Baja, Alif, Galih, Arif, Iman
    Thanks To: Jelajah Gunung, Janda Pala, Fajar herlambang, Mas Wiro, Mas Bolang dan temannya, Pak Karto Kasbun, mbak Magdalena, Devi, Mbak mia, tante Lina, kang Alif, Iman, Baja, Arif, Yuri

    Special Thanks To: Allah SWT, Mamah Papah yang udah ngijinin ikut trip ini
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Follow My Instagram

    About Me

    About Me
    Designer, Traveler & a Food Lover

    Follow Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    recent posts

    Blog Archive

    • ▼  2018 (2)
      • ▼  July 2018 (1)
        • Why So Serious? The Joker Theme The Dark Knight So...
      • ►  January 2018 (1)
    • ►  2017 (5)
      • ►  July 2017 (3)
      • ►  January 2017 (2)
    • ►  2016 (7)
      • ►  November 2016 (2)
      • ►  September 2016 (1)
      • ►  April 2016 (2)
      • ►  February 2016 (1)
      • ►  January 2016 (1)
    • ►  2015 (3)
      • ►  September 2015 (1)
      • ►  July 2015 (1)
      • ►  February 2015 (1)
    • ►  2014 (7)
      • ►  August 2014 (1)
      • ►  June 2014 (1)
      • ►  May 2014 (1)
      • ►  April 2014 (2)
      • ►  January 2014 (2)
    • ►  2013 (1)
      • ►  April 2013 (1)
    • ►  2012 (5)
      • ►  June 2012 (1)
      • ►  May 2012 (1)
      • ►  February 2012 (1)
      • ►  January 2012 (2)
    • ►  2011 (8)
      • ►  November 2011 (2)
      • ►  October 2011 (6)

    Labels

    Budaya Coffee Dunkirk Food game of thrones movie review Teknik Travelling Umum

    Most Popular

    • Sukhoi SU-30 Series
      SU-30 MKK The Sukhoi Su-30MKK   is a modification of the Su-27 SK manufactured since 1999 by KnAAPO and Shenyang Aircraft Corporation . ...
    • Interceptor aircraft (Pesawat pencegat)
      Pesawat pencegat adalah jenis pesawat tempur yang dirancang khusus untuk mencegat dan menghancurkan pesawat terbang musuh, terutama pesaw...
    • Ilmu Budaya Dasar Bab 1
    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top